Renungan Selasa, 16 September 2014 : Keragaman dalam satu tubuh.


Pekan Biasa XXIV

1Kor 12:12-14,27-31a;Mzm 100:2,3,4,5;Luk 7:11-17

   Bhineka Tunggal Ika.” Semboyan ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia terdiri dari beragam agama, bahasa dan suku bangsa. Namun, keberagaman itu tidak berarti menutup kemungkinan untuk bekerja bersama-sama. Paulus memakai keragaman ini melalui kesatuan tubuh dengan banyak anggota, untuk menggambarkan kesatuan gereja Kristus.

  Diakui bahwa tubuh kita terdiri dari bagian-bagian yang unik, khas, berbeda bentuk dan fungsinya (ayat 18). Peranan dan fungsi masing-masing anggota tubuh itu baru bisa dirasakan apabila ditempatkan dalam kesatuan tubuh. Di luar kesatuan itu masing- masing anggota tidak bisa berfungsi dan berperan sebagaimana mereka dibentuk. Kesatuan tubuh itu sedemikian solidnya sampai- sampai ketika gigi kita yang berlubang terasa nyeri maka kepala kita juga ikut pusing dan, pada akhirnya, seluruh anggota tubuh terganggu aktivitasnya (ayat 26).Kiasan ini sebenarnya merupakan adaptasi Paulus dari kuil Asklepius di Korintus. Dalam kuil tersebut terdapat banyak sekali anggota- anggota tubuh secara terpisah. Paulus ingin menekankan kepada jemaat tentang kesatuan tubuh Kristus. Jemaat Kristen di Korintus adalah gambaran tentang keadaan tubuh Kristus yang sebenarnya. Melalui penjelasan tersebut Paulus mengarahkan bagaimana jemaat Tuhan seharusnya hidup.

  Ada orang-orang yang diberikan fungsi khusus dalam rangka kesatuan jemaat. Tetapi tidak dapat dikatakan bahwa karunia yang satu lebih bernilai dibandingkan karunia lainnya, meskipun satu sama lainnya berbeda. Tetapi, Paulus mengingatkan bahwa mereka bisa berfungsi sebagai tubuh Kristus hanya bila mereka menyadari kebergantungan dan kesatuan dengan bagian tubuh lainnya.
Manfaatkanlah karunia-karunia khusus yang dianugerahkan oleh Kristus dalam kerjasama yang baik karena Dia yang kita layani.

   Injil hari ini, Yesus membangkitkan seorang pemuda yang sudah mati, anak dari ibu yang sudah janda. Namun peristiwa ini akan lebih memberikan gambaran yang lengkap jika kita lihat ayat-ayat sebelumnya tentang Yesus yang terlebih dahulu menyembuhkan seorang perwira di Kapernaum. Kita dapat menarik dua pelajaran penting dari cerita tentang seorang perwira di Kapernaum dan janda di Nain ini. Pertama, seorang perwira, bukan orang Israel, memiliki hamba yang sedang sakit keras dan hampir mati (ayat 9). Ia memiliki relasi yang sangat baik dengan orang-orang Yahudi (ayat 3), bahkan ikut berpartisipasi dalam pembangunan sinagoge (ayat 5). Ia juga memiliki suatu pengenalan yang benar tentang Yesus. Ia tahu Yesus memiliki kuasa untuk menyembuhkan tanpa harus datang, melihat ataupun menjamah hambanya yang sedang sakit keras dan hampir mati. Oleh karena itu, ketika permintaannya dipenuhi oleh Yesus, dan Yesus berjalan menuju rumahnya, ia mengutus sahabat-sahabatnya kepada Yesus, supaya Yesus tidak perlu ke rumahnya, cukup berkata saja, ia percaya bahwa hambanya akan sembuh. Pengenalannya yang tepat tentang Yesus yang adalah Mesias membuat perwira tersebut menanggapi secara aktif dan tepat terhadap Yesus.

   Kedua, ketika Yesus pergi ke Nain, di dekat gerbang kota, Ia melihat rombongan orang yang mengusung orang mati. Mestinya yang dilihat oleh Yesus pertama kali bukan orang mati yang diusung, tapi ibu dari orang mati tersebut. Seharusnya si ibu berjalan di depan, disusul usungan orang mati. Dia tidak memiliki suatu pengenalan yang tepat tentang siapa Yesus, sehingga dia tidak tahu harus bagaimana merespons kepada Yesus. Ketika berhadapan dengan Yesus, janda ini pasif. Namun dalam situasi seperti ini Yesus berinisiatif aktif terhadap janda ini. Dia menyentuh dan berkata kepada anak muda “bangkitlah.”

Dua pelajaran: Orang yang mengenal siapa Yesus, seharusnya memiliki respons iman seperti perwira. Kepada orang yang kurang mengenal Yesus, Yesus sendiri akan secara aktif memperkenalkan diri-Nya kepadanya.

Renungkan: Seberapa jauh dan dalam, pemahaman tentang Yesus? Pikirkan dan renungkanlah dalam hidupmu.

Renungan Minggu, 14 September 2014 : Allah Mengasihi secara Total

Pesta Salib Suci
 Bil 21:4-9; Mzm 78; Flp 2:6-11; Yoh 3:13-17

Segala usaha Allah untuk mendekati dan menyelamatkan manusia, bahkan sampai rela serba mengalah adalah karena Allah mengasihi manusia.

Sebenarnya Allah dapat melakukan “kekerasan” untuk mendidik dan menyadarkan umat- Nya, seperti Bacaan I Minggu ini: Allah menghukum Israel yang bersungut-sungut dengan gigitan ular tedung yang mematikan. Kita ingat, Allah pernah mengirim air bah pada zaman Nuh (Kej 7) atau menghancurkan kota Sodom dan Gomora pada zaman Abraham (Kej 19:1-29).

Namun, sejarah pendampingan Allah pada Israel menampakkan Allah yang baik hati, pengampun, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia (bdk.Bil 14:18). Alkitab merekam hal itu sejak awal Kitab Kejadian. Bukankah manusia pertama yang berdosa dan ingin menjadi seperti Allah pun diampuni-Nya?

Dalam Kitab Wahyu, Allah berkenan dan tak segan merepotkan diri mendatangi umat-Nya, “Ya, Aku datang segera” (Why 22:20). Dalam Kej 32:22-32, Allah rela diajak berkelahi oleh Yakub. Dalam peristiwa itu, Allah mengalah dan membiarkan Yakub menang. Allah pun rela diajak berdebat dan mengalah oleh permohonan tawar-menawar Abraham (Kej 18:23-33).

Banyak kisah dalam Perjanjian Lama menyatakan Allah yang rela duduk sama rendah dengan manusia, Allah yang mengajak Israel berdiskusi, berdebat, dan berperkara (misalnya: Ayb 9:3; 10:2; Mzm 143:2; Ams 29:9; Yes 1:18; 43:26; Yer 25:31; Yeh 20:36; Yoel 3:2; Mi 6:2). Dalam Flp 2:6-7, Yesus Putra Allah, “tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan. Ia sangat merendahkan diri-Nya menjadi sama dengan manusia”.

Allah menghadapi dan mendidik manusia dengan kesabaran. Kita mungkin bisa membayangkan Allah yang sampai mengelus dada, “Jawablah Aku, dengan apa engkau Kulelahkan?” (Mi 6:3). Dalam kesejajaran dengan “mengelus dada” itu, kita ingat Yesus yang menangis keronto-ronto, nelangsa, remuk redam hati-Nya, ketika memandangi kota Yerusalem (Luk 19:41-42).

Tawaran Allah sering tidak kita dengarkan, apalagi kita turuti. Allah telah menempuh segala cara dan mengutus para nabi hingga Putra-Nya sendiri, untuk mendekati dan menyelamatkan manusia (Ibr 1:1-2). Marilah bertanya diri, apa tanggapan kita? Pada 14 September, kita memperingati Pemuliaan Salib Suci. Salib tempat Yesus bergantung ini konon pernah dijarah dan dibawa sampai Persia. Salib itu dibawa kembali ke Golgota kala Heraklius, Kaisar Roma mengalahkan Persia. Salib itu pun pernah hilang, tapi pada abad IV ditemukan kembali oleh St Helena (Ibu Kaisar Konstantinus).

Perayaan Pemuliaan Salib Suci mengacu pada peristiwa penemuan kembali Salib itu oleh St Helena. Perayaan Pemuliaan Salib Suci ini bukan pertama- tama menghormati “kayu palang” yang hilang dan ditemukan kembali. Perayaan ini terutama untuk menyatakan, Allah yang Mahakuasa itu penuh kasih dan rela menebus manusia, bahkan dengan cara yang paling hina sekalipun. Hal itu dilakukan oleh Allah, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak- Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).

Jadi, segala usaha Allah untuk mendekati dan menyelamatkan manusia, bahkan sampai rela serba mengalah adalah karena Allah mengasihi manusia. Ketika saya membaca kisah orang Israel digigit ular dan Musa meninggikan ular perunggu, saya selalu teringat apotek, rumah obat, yang berlambang ular. Apotek adalah tempat orang bisa mendapatkan penawar luka atau penyakit untuk kesembuhannya.

Namun penawar di rumah obat hanya menyembuhkan penyakit fisik, sama seperti ular yang ditinggikan Musa. Luka rohani akibat dosa hanya bisa disembuhkan oleh Dia yang ditinggikan di kayu salib. Mengimani Dia yang ditinggikan di kayu salib akan mendatangkan keselamatan kekal.

Dalam Yesus, Allah telah bertekad agar tak seorang pun hilang (bdk.Yoh 6:39). Namun seperti lambang ular di apotek, salib sering sekadar menjadi hiasan. Masih banyak orang sakit yang tidak mencari obat ke apotek (baca: dokter), melainkan ke dukun.

Banyak orang memakai salib sekadar sebagai aksesoris, hiasan dinding rumah, bukan sebagai tanda syukur dan pertobatan. Kasih Allah yang menebus manusia masih harus terus diwartakan. Makna memperingati Pemuliaan Salib Suci adalah undangan agar kita sadar dan bersyukur bahwa Allah telah mencintai manusia sampai sehabis-habisnya.

Marilah membalas kasih-Nya dengan iman’ syukur yang sepadan.

Renungan Sabtu, 13 September 2014 : Agama Palsu


Pw St Yohanes Krisostomus

1Kor 10:14-22a;Mzm 116;Luk 6:43-49

Bagi masyarakat Palestina, pohon ara (Ficus carica) merupakan pohon paling terkenal. Ia menjadi lambang kesuburan, perdamaian, dan kesejahteraan. Buah anggur juga menjadi lambang kegembiraan dan berkat. Sebaliknya, semak dan duri hanya layak dibakar. Dalam Injil hari ini, Yesus bicara tentang karakter Kristen. Ia tak tumbuh serta merta, tapi punya asal usul dan proses. Yesus bicara mengenai hubungan ‘sesuatu yang sehat’ dengan ‘hasil yang baik’. Hidup yang sehat berarti hidup jujur di hadapan Allah dan manusia. Kitab Yes 5:20 mengatakan, “Celakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat, yang mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan, yang mengubah pahit menjadi manis, dan manis menjadi pahit.”

Kebohongan, buah yang buruk itu, memunculkan agama palsu yang menghilangkan ‘segala sesuatu yang keras’ dari religi, salib dari kekristenan, dan membuang kata-kata tajam Yesus, serta menempatkan pengadilan Allah sebagai latar belakang belaka.

Dengan menjadi jujur terhadap Allah, dalam Sabda-Nya, dan dalam Rahmat- Nya, kita memiliki landasan kokoh, yang tak akan lenyap meski taufan melanda (lih. Amsal 10:25). Memang perlu praktik!.

Renungan Jumat, 12 September 2014 : Bright Eyes, Bright

 
Pekan Biasa XXIII
 
1Kor 9:16-19, 22b-27; Mzm 84; Luk 6:39-42

Dengan mata jernih, masa depan pun jernih. Itulah pengalaman ribuan anak-anak SD yang mendapatkan kacamata gratis melalui aksi sosial dua yayasan peduli anak. Kegiatan itu terkait dengan Amsal 29:18, “Bila tidak ada penglihatan, menjadi liarlah rakyat.” Rakyat yang liar bukan lah yang kita kehendaki.

Maka, mata yang jernih, vision (penglihatan) mengenai kehidupan yang benar, memang menjadi kunci kesejahteraan dan arahan peta kehidupan. Dalam kekristenan, vision itu hanya diperoleh melalui Yesus Kristus. “Aku lah Jalan, dan Kebenaran, dan Hidup” (Yoh 14:6).

Jalan Yesus, jalan yang melewati salib. Dalam salib, dosa diampuni dan para pen dosa dibersihkan; kegelapan dan kebobrokan dihancurkan oleh cahaya dan kebenaran. Salib membebaskan kita dari kutukan dan menunjukkan jalan menuju kesatuan cinta dengan Allah.

Takhta Belas Kasih dengan salib menjadi mata yang baru untuk menatap masa depan. The Eyes of the Cross, ‘Mata dari Salib, itulah yang dipakai Nabeel Jabbour, seorang Arab beragama Kristen dalam memandang dan menilai budaya Islam. Hasilnya, sebuah ungkapan kasih!

Renungan Kamis, 11 September 2014 : Dua Sayap Doa

 
Pekan Biasa XXIII
1Kor 8:1b-7,11- 13; Mzm 139;Luk 6:27-38

ST Augustinus dari Hippo mengatakan, “Apakah kamu ingin doamu terbang kehadirat Allah? Berilah doa itu dua sayap; puasa dan derma.” Menurut Katekismus Gereja Katolik art. 1434, puasa, doa, dan berderma itu tiga bentuk tobat batin seorang Kristen menurut Kitab Suci dan Bapa Gereja.

Injil hari ini bicara tentang pertobatan. Sebelumnya, dalam relasi dengan sesama, yang dipakai adalah kriteria hak dan kewajiban. Kini, ketika berada dalam ke satuan dengan Yesus Kristus, yang menjadi ukuran adalah Rahmat Allah. Melalui ukuran itu, sesama diperlakukan berdasar ke hendak Allah yang Mahakasih dan Mahamurah.

Tobat batin itu sangat sulit. Apalagi ungkapan yang dipakai Yesus dalam ay.27-28, mengenai mereka yang melawan kita, sangat ‘menyengat’. Dalam teks Yunani itu sangat jelas. Echthros (musuh) adalah orang yang punya kebencian sangat pribadi; misé¯o (mem benci): tindakan kebencian disertai keinginan terus menganiaya; kataraomai (mengutuk): pengucapan kata-kata yang mencelakakan dengan memanggil kekuatan supranatural; ep¯ereázo¯ (mengancam): mengintimidasi memakai ancaman dan tuduhan terencana.

Dari sisi hak dan martabat manusia, semua tindakan itu harus dilawan. Namun, Yesus minta ‘mengasihi’ atau agapá¯o , yaitu sikap kasih yang tak berdiri sendiri, tapi selalu meluas ke sesama atas dasar kesatuan dengan kehendak Allah. Dibutuhkan pertobatan batin: berpuasa meninggalkan kriteria manusia, dan ‘mendermakan’ kasih Illahi.

Renungan Rabu, 10 September 2014 : “Makarios” Sejati

 
Pekan Biasa XXIII
1Kor 7:25-31; Mzm 45; Luk 6:20-26

Lukas 6:20-26 membuat kontras antara ‘berbahagialah’ (Yun.makarios),dengan ‘celakalah’ (Yun. ouai). Makna makarios adalah berada dalam ‘keadaan yang lama, di mana berkat dari Allah datang terus-menerus’.

Sebaliknya, ouai adalah ungkapan ‘kasihan terhadap mereka yang terkena pengadilan Illahi’. Tak ada lagi jalan menuju keselamatan bagi mereka yang sudah dikenai ouai.

Dalam Injil Lukas, Yesus menyebut mereka ‘yang miskin, lapar, menangis, dan dianiaya’ sebagai makarios. Mereka telah mengganti orientasi hidup: bermetanoia, mengosongkan diri, serta menutup semua hal yang menghalangi kehadiran Allah. Mereka menjadi lapar dalam roh, agar selalu mencari manna dari Sabda dan Roh Allah. Mereka selalu menangisi dosa, agar memperoleh kebebasan dari beban penindasan maut. Untuk menjadi makarios dibutuhkan iman (lih. Rom 4:5-7; 14:22- 23).

Sebaliknya, seruan ouai diterima mereka ‘yang kaya, kenyang, tertawa, dan di puji orang’. Ouai, celakalah, karena mereka berada jauh dari Allah, seluruh hidupnya telah dipenuhi ‘yang bukan Illahi’. Yang berkuasa hanyalah individualisme dan cinta diri, yang secara berurutan ‘melahirkan’ totalitarianisme, diskriminasi, kemiskinan, dana kehancuran martabat.

Ketika membaca perikop ini, mistikus Spanyol, St Yohanes Salib, mengatakan, “Biarkanlah jiwa saya hidup seakan-akan terpisah dari badanku”. Karena, menjadi ‘kosong’ berarti Allah telah memenuhi hidup ini, makarios sejati.

Renungan Selasa, 09 September 2014 : Dipilih sebagai Rasul

Pekan Biasa XXIII
1 Kor.6:1-11; Mzm.149; Luk.6:12-19

Yesus memilih 12 rasul (Yun. apóstolos) tanpa melalui ‘Rumah Transisi’ atau ‘lelang jabatan’. Lukas menulis, sebelum memilih, “Yesus pergi ke bukit, untuk berdoa, dan ia melewati seluruh malam (Yun. dianuktereuó) untuk berdoa kepada Allah” (Luk 6:12). Dalam Perjanjian Baru, ungkapandianuktereuó hanya ada satu kali (Luk 6:12). Ini sesuatu yang khusus. Para rasul dipilih berdasar dialog Yesus dengan Bapa, ‘setelah melewati seluruh malam bersama Allah’. Ada sisi keillahian dalam fungsi apóstolos. Berdoa menjadi ciri khusus Yesus saat akan mengambil keputusan penting.

Yesus memilih 12 rasul dari kalangan orang biasa, bukan profesional, tanpa pendidikan khusus, dan bukan tokoh publik. Yang diutamakan adalah kesediaan melakukan segala sesuatu di bawah kepemimpinan dan kekuasaan Yesus.

Dipilih menjadi apóstolos berarti diutus mewakili Yesus, memberi kesaksian mengenai Diri-Nya. Yang dibawa apóstolos adalah message dari Sang Pengutus, yang diwariskan melalui para rasul lain. Maka, rasul harus “menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya” (Kis 1:22). Ikatan dengan Gereja beserta seluruh Tradisi, Kitab Suci, serta Magisterium menjadi unsur dan kriteria yang paling penting mewujudkan karya kerasulan. Merasul bukan proyek pribadi, karena merasa imannya hebat.