Renungan Senin, 08 September 2014 : Via Irregularis

Pesta Kelahiran SP Maria
Mi 5:2- 5a;Mzm 13;Mat 1:1-16, 18-23

Asal usul Yesus menurut Injil Mateus tak biasa (irregularis). Salah satunya, ada lima perempuan: Tamar, Rahab, Rut, Batsyeba (istri Uria), dan Maria, di tengah silsilah yang didominasi kaum pria. Dari lima tokoh itu, empat bukan orang Yahudi. Mereka melahirkan anak di luar skema normal adat setempat. Hubungan mereka dengan pasangan juga tak sesuai tuntutan hukum kemurnian zaman Yesus.

Tamar, orang Kanaan, mendekati Yehuda dengan berpakaian seperti perempuan asusila (Kej 38:1-30); Rahab, asal Yeriko, seorang tunasusila profesional (Yos 2:1-24); Batsyeba, orang Het, diambil Daud, meski bersuamikan Uria (2 Sam11:1-27); Rut, janda asal Moab, mendekati Boas dengan cara tak biasa (Rut 3:1-15; 4:13-17). Tentang Maria dan Yusuf, kita tentu sudah tahu.

Via irregularis, jalan yang tidak biasa, menjadi sarana perwujudan janji Keselamatan Allah. Jalan semacam ini banyak terjadi dalam sejarah keselamatan. Allah menjadi pengendali sejarah, bukan manusia. Maka, di hadapan sejarah keselamatan, semua memiliki nilai yang sama untuk dikasihi dan dipilih.

Maria dan Yusuf juga mengalami via irregularis tatkala diberi tugas menjadi sarana kehadiran Yesus. Maria menjawab, “Aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Sedangkan Yusuf “berbuat seperti yang diperintahkan oleh malaikat Tuhan kepadanya” (Mat 1:24). Teladan dua tokoh itu dapat membawa kita melihat kembali silsilah keluarga dengan kacamata Kasih Illahi. Dari situ,
segala yang baik akan mengalir sendiri.

Renungan Minggu 07 September 2014 : Tanggung Jawab Murid 'Menegur'


Minggu Biasa XXIII
Yeh 33:7-9; Mzm: 95; Rm 13:8-10; Mat 18:15-20

Kita itu berdosa bukan hanya karena secara aktif melakukan tindakan yang melawan cintakasih, melainkan juga karena secara pasif kita membiarkan orang melakukan kesalahan. Menegur adalah tindakan kasih.

Kita tidak pernah lepas dari kesalahan. Kalau didiamkan, kesalahan tersebut bisa makin parah, bukan hanya pada orang yang bersalah, tetapi juga bagi komunitasnya. Oleh karenanya, apabila ada orang yang bersalah, dibutuhkan orang yang mau dan mampu mengoreksi kesalahan tersebut, entah untuk menyelamatkan orang yang bersalah ataupun menyelamatkan kesejahteraan komunitas.

Injil hari ini (Mat 18:15-20) menampilkan Yesus yang meminta para murid-Nya untuk menegur orang yang bersalah guna menyelamatkan nyawanya. Menegur orang yang bersalah merupakan bagian dari tanggung jawab murid Tuhan. Seorang murid tidak boleh tinggal diam apabila ada saudaranya yang bersalah. Yesus bukan hanya meminta murid-Nya untuk menegur, tetapi bagaimana memberi teguran secara dewasa.

Pertama, teguran itu disampaikan dari hati ke hati sebagai suatu pertemuan dua saudara. Orang yang bersalah didatangi dan diajak bicara empat mata. Tentu teguran tersebut harus menggunakan kata dan cara yang pas dalam waktu yang tepat supaya orang yang ditegur dapat menerimanya dengan lapang dada; tidak merasa dipojokkan atau dihakimi. Di situ orang yang bersalah diharapkan mengakui kesalahannya dan mau memperbaiki perbuatannya. Itulah teguran langsung, tanpa tedeng aling-aling yang lahir dari cinta persaudaraan.

Akan tetapi, apabila yang bersalah tersebut tidak dapat menerima teguran, murid Tuhan diminta untuk melangkah ke tahap kedua, yaitu dengan menyertakan orang lain yang kiranya berwibawa untuk meyakinkan kesalahannya. Langkah kedua yang ditempuh ini menggunakan kewibaan orang-orang tertentu yang bisa memberi kesaksian atau bukti nyata. Bisa jadi orang tersebut tidak juga mau mendengarkan dua atau lebih orang lain yang berwibawa. Untuk itu, Yesus meminta para murid- Nya untuk maju ke tahap ketiga, yaitu membawa orang itu kepada komunitas. Setelah dengan menggunakan cara persaudaraan dan kewibawaan, orang yang bersalah tetap tidak mengindahkan, orang tersebut dihadapkan pada jemaat yang biasanya memiliki kesepakatan bersama (kekuatan hukum). Pada tahap ketiga ini, biarlah komunitas memperlihatkan kesalahannya secara legal supaya orang tersebut menyadari kesalahannya dan sungguh menyesalinya.

Yesus juga menyadari bahwa ternyata ada juga orang yang begitu bebal sehingga setelah melalui tiga tahap pun, yaitu pendekatan personal, teguran komunal, dan tuntutan legal (eklesial), orang yang bersalah tetap tidak mau memperbaiki kesalahannya. Untuk orang jenis ini, baik individu, komunitas, maupun Gereja tidak dapat berbuat apapun lagi. Anggaplah saja ia itu kafir, yaitu pemungut cukai; orang yang tak tahu hukum dan aturan; orang yang tak mengenal Allah. Di sini Yesus rupanya menyerahkan orang itu pada rahmat. Orang tersebut perlu didoakan dalam nama Yesus supaya bertobat.

Dalam tradisi kristiani, terdapat apa yang disebut dengan correctiofraterna, yaitu suatu kegiatan untuk mengoreksi saudara yang bersalah dengan semangat cinta kasih supaya orang yang bersalah diselamatkan dan keutuhan komunitas persaudaraan dapat dipertahankan. Dalam kehidupan kita, tegur- menegur menjadi masalah. Dalam bahasa Jawa, dikenal istilah ewuh-pakewuh, yaitu sikap segan kepada orang untuk mempertahankan hubungan dan menjaga perasaan orang yang bersangkutan. Orang merasa sungkan untuk menegur karena takut menyakiti saudara atau temannya. Bagi orang yang pekewuh, lebih baik mendiamkan orang bersalah daripada hubungan rusak gara-gara memberi teguran. Akan tetapi, rupanya ewuh pakewuh ini tak sesuai dengan nasihat Tuhan dalam Injil hari ini. Kita harus berani menegur sesama yang bersalah demi keselamatannya dan demi keutuhan komunitas. Kita berdosa bukan hanya karena secara aktif melakukan tindakan yang melawan cinta-kasih, melainkan juga karena secara pasif membiarkan orang melakukan kesalahan. Menegur adalah tindakan kasih kepada saudara dalam iman kepada Tuhan dengan harapan yang ditegur bertobat. Sambil dengan rendah hati melakukan introspeksi dan mawas diri, marilah kita berani memberi teguran kepada orang yang bersalah demi cinta-kasih sesuai dengan ’ perintah Tuhan..

Renungan Sabtu, 06 September 2014 : Mengabdi Manusia


Pekan Biasa XXII
1Kor. 4:6b-15; Mzm 145; Luk. 6:1-5

Kitab Suci Kejadian 1:1-2:3 bercerita tentang penciptaan alam semesta. Allah menyelesaikan ciptaan-Nya selama enam hari dan beristirahat pada hari ketujuh, maka hari itu dikuduskan untuk Allah. Kitab Ulangan 5:12- 15 memberi alasan lain hari Sabbat merupakan kesempatan istirahat bagi umat Israel. Hari itu mengingatkan Israel akan perbudakan di Mesir dan pembebasan oleh Allah. Maka, Sabbat mesti dinikmati dengan rasa syukur kepada Tuhan dan diisi dengan istirahat untuk memulihkan tenaga dari kelelahan selama enam hari bekerja keras, terutama bagi kaum buruh yang miskin. Jadi, hukum hari Sabbat menjamin kehidupan yang sejahtera bagi rakyat.

Pada masa Yesus, makna hari Sabbat disalahtafsirkan menjadi hari yang sulit, penuh aturan dan larangan, sehingga tak dapat dirayakan dengan sukacita. Ada sejumlah aturan dan larangan yang didaftarkan ahli-ahli Taurat berkaitan dengan “bekerja”, seperti menumbuk, menampi, mengirik, dan yang lain. Murid-murid Yesus melanggar kekudusan hari Sabbat, karena mereka memetik bulir-bulir gandum, mengirik dengan tangan, lalu menampi. Aturan Sabbat yang kaku ini masuk dalam kelompok “yang lama”, yang seharusnya sudah berakhir dengan kehadiran “yang baru” yaitu Mesias. Hukum apapun harus mengabdi kepada kepentingan manusia, bukan sebaliknya. Bagaimana sikap kita?

Renungan Jumat, 05 September 2014 : Kantong Baru


Pekan Biasa XXII
1 Kor 4:1 – 5; Mzm 37; Luk 5:33-39

Praktik berpuasa merupakan kebiasaan dalam tradisi Yahudi. Orang berpuasa dengan alasan tertentu, misal sebagai tanda pertobatan, perkabungan, atau untuk satu maksud tertentu. Beberapa orang Farisi mengeluh, karena murid-murid Yesus tidak berpuasa seperti yang lain. Yesus menanggapi keluhan itu dengan memberi gambaran tentang pengantin. Gagasan pengantin sering dipakai sebagai lambang kedatangan Mesias. Bila Mesias tiba, maka akan ada sukacita bagi mereka yang menerima Dia. Secara terselubung, Yesus adalah Mesias itu sendiri, yang kehadiran-Nya membawa kabar baik, berita pembebasan, pengampunan bagi mereka yang menerima.

Ajaran Yesus menawarkan pandangan hidup baru yang bertolak dari rencana Allah untuk menyelamatkan manusia. Sesuatu yang baru itu perlu ditanggapi dengan mentalitas baru, yakni sikap terbuka terhadap Sabda Tuhan. Yesus mengumpamakan dengan kain lama yang di tambal di kain baru dan anggur baru dalam kantong kulit lama. Bila masih mempertahankan hukum lama, maka akan sulit memahami pewartaan Yesus. Maka, pembebasan ke arah manusia baru pun sulit terjadi. Apakah kita masih menerima ajaran Yesus dalam kantong mental mapan yang sulit berubah?

Renungan Kamis, 04 September 2014 : Misi Baru


Pekan Biasa XXII
1Kor 3:18-23; Mzm 24; Luk. 5:1-11

Hari ini penginjil Lukas kembali menampilkan Yesus di tepi danau Genesaret. Mungkin saja orang banyak berdesakkan di sekitar Yesus karena ingin mendengarkan-Nya. Ia lalu berpindah keperahu Petrus dan mengajar. Orang banyak itu terkesan terhadap pribadi dan pengajaran Yesus. Tapi, tidak dikatakan secara jelas tanggapan mereka terhadap-Nya.

Kisah lalu berfokus kepada tokoh nelayan yang bernama Simon. Kesannya begitu dalam terhadap pribadi Yesus, sehingga ia membiarkan dirinya dicobai oleh-Nya, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah...!” (Luk 5:4). Bagi Simon, hal ini tidak masuk akal, waktu dan strateginya tidak tepat. Jawab Simon, “Karena Engkau yang menyuruhnya, aku akan.... Inilah pengakuan iman Simon. Ternyata jala itu penuh ikan. Mereka heran dan bingung tentang pribadi Yesus. Ternyata, Dia memiliki “kuasa ajaib”.

Kata-kata Yesus telah mengubah pandangan hidup mereka. Daya tarik Yesus membuat mereka melepaskan keluarga, pekerjaan, dan mengikuti Dia. Petrus telah siap meninggalkan hidupnya sebagai nelayan dan menjadi murid Yesus. Ia telah menjadi manusia baru dengan nama baru dan misi baru. Setiap langkah perubahan itu tidak mudah. Namun, sabda Yesus menjadi jaminan. “Jangan takut...!” Bagaimana sikap kita?

Renungan Rabu, 03 September 2014 : Mari Pergi!


Pekan Biasa XXII
1Kor.3:1-9; Mzm 33; Luk. 4:38-44

Dari rumah ibadat di Kafarnaum, Yesus ke rumah Simon. Mertua Simon sedang demam keras. Yesus menyentuh tangannya dan memerintahkan penyakit itu keluar. Perempuan itu sembuh dan melayani rombongan Yesus. Menurut tradisi Yahudi, seorang laki-laki dilarang menyentuh perempuan. Tapi tindakan Yesus menghapus diskriminasi itu. Di mana saja Kerajaan Allah hadir, masalah sosial dan budaya, yang selama itu membelenggu manusia akan tersingkir.

Berita penyembuhan pun tersebar luas. Orang-orang sakit dihantar kepada Yesus. Ia meletakkan tangan ke atas mereka masing- masing tanpa gegabah; setiap orang mendapatkan perhatian-Nya secara penuh, meski jumlah mereka sangat banyak.

Hari berikut, Yesus pergi menyendiri untuk berdoa. Penginjil Lukas selalu menampilkan Yesus yang bekerja dan berdoa. Dalam doa, Yesus mengenal kehendak Allah. Orang banyak mencari-Nya, mungkin bukan untuk mendengarkan ajaran-Nya, tetapi ingin melihat mukjizat yang dilakukan-Nya. Mereka minta agar Yesus bermalam, tentu untuk melayani kebutuhan mereka, tanpa memikirkan kebutuhan orang di wilayah lain. Yesus berani meninggalkan penerimaan yang hangat dan pergi.

Renungan Selasa, 02 September 2014 : Perkataan Yesus


Pekan Biasa XXII
 1Kor. 2:10b-6; Mzm 145; Luk 4:31-37

Dari Nazaret, Yesus ke Kafarnaum, lingkungan orang-orang yang dianggap kafir. Ia masuk ke rumah ibadah lalu mengajar. Kata-kata-Nya penuh kuasa Roh dan menakjubkan, walaupun penginjil tidak menyampaikan persis kata-kata yang diucapkan-Nya. Roh jahat dalam diri orang kerasukan itu mengenal Yesus sebagai Yang Kudus dari Allah. Namun, Yesus tak mem biarkan diri-Nya dikenal. Ia malah menghardik setan itu agar diam dan keluar dari orang itu. Pernyataan diri Yesus sebagai Mesias baru akan terpenuhi pada peristiwa penyaliban dan kebangkitan-Nya. Semua orang heran, “alangkah hebat perkataan ini...!”

Perkataan Yesus bersumber dari diri- Nya yang memiliki hubungan intim dengan Allah. Ia berbicara atas nama diri- Nya, tidak sama seperti para ahli Taurat. Yesus tak hanya memberi informasi tentang Allah yang menyelamatkan, namun Dia memberi pengalaman akan penyelamatan itu melalui tindakan “penyembuhan”’. Tindakan itu menjadi tanda Kerajaan Allah hadir dan sedang memasuki sejarah manusia.

Manusia zaman ini juga tertarik dengan mukjizat penyembuhan. Orang akan pergi mencari, karena ingin sembuh. Melalui tanda-tanda ajaib itu, Tuhan mengundang kita untuk mengikuti-Nya. Apakah kita bersedia memikul salib-Nya?