Renungan Sabtu 1 November 2014 : Hari Raya Semua Orang Kudus


Why 7:2-4.9-14; Mzm 24:1-2.3-4ab.5-6; 1Yoh 3:1-3; Mat 5:1-12a

Siapa yang bisa disebut bahagia? Kalau menilik dari sabda bahagia ini maka yang bisa disebut bahagia adalah mereka yang telah tekun memperjuangkan hidupnya dan bertahan dalam iman kepercayaan kepada Tuhan. Pada mereka inilah sebutan bahagia layak dikenakan.

Hari ini Gereja merayakan hari raya semua orang kudus. Gereja bersyukur atas pribadi-pribadi yang dipilih Allah karena rahmatNya dan ketekunan mereka memperjuangkan hidup dan mempertahankan iman. Mereka adalah pribadi-pribadi yang telah memenangkan kehidupan ini. Aneka kesulitan dan tantangan hidup bisa dilewati dengan nilai yang tak tekatakan dan terumuskan.

Masing-masing dari kita menambahkan nama mereka dalam nama kita. Tentunya bukan untuk gagah-gagahan. Nama itu kita tambahkan agar kita bisa menimba kekuatan hidup dan iman yang telah mereka menangkan. Maka marilah hari ini mengingat atau membaca kembali kisah dari para kudus yang ditambahkan dalam nama kita.

Renungan Jumat, 31 Oktober 2014 : Kegembiraan Sabat

 
Pekan Biasa XXX
 
Flp 1:1-11; Mzm 111; Luk 14:1-6

Hari ini, Paulus mengingatkan kita lagi untuk bersyukur kepada Tuhan. Syukur memang menjadi sumber kekuatan dalam hidup orang kristiani. Rasa syukur ini mesti kita bagikan kepada sesama, supaya kekuatan hidup kita makin berkembang.

Seperti pemazmur yang mengajak kita bersyukur dengan terlibat dalam hidup menggereja. Dengan ikut serta dalam berbagai kegiatan Gereja, kita bergerak bersama jemaat menjadi saksi Kristus.

Hari Sabat diadakan supaya orang-orang menikmati kegembiraan anak-anak Allah. Yesus ingin mereka merasakan berkat dan kegembiraan sebagai anak-anak Allah. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah mampu bersyukur dan menikmati kegembiraan anak-anak Allah?

Renungan Kamis, 30 Oktober 2014 : Laskar Kristus



Pekan Biasa, Ef 6:10-2 0; Mzm 144; Luk 13:31-35

Pecinta kisah Harry Potter pasti tahu tentang Laskar Dumbledore (Dumbledore’s Army) yang pantang menyerah menegakkan kebenaran di Hogwarts dan melawan Voldemort. Meski dalam situasi tertekan, laskar itu berani bergerak melawan kejahatan. Dalam dunia nyata, kita pun bisa menjadi Laskar Kristus. Musuh kita adalah roh-roh jahat yang hadir dalam bentuk nafsu duniawi, kesombongan, keserakahan, kekuasaan, dan banyak lagi. Kekuatan yang dihimpun adalah kekuatan rohani untuk mewartakan kebaikan dan melawan kejahatan.

Cara menjadi Laskar Kristus yaitu berlatih menjadi kuat di dalam Tuhan.Kemudi an kita harus memakai perlengkapan senjata Allah (Ef 6:14-18). Tak lupa kita pun harus mendoakan se sama pejuang Laskar Kristus, supaya saling menguatkan dalam Tuhan. Doa sangat penting untuk melahirkan keberanian menyatakan diri sebagai Laskar.

Bacaan Injil hari ini menunjukkan keberanian Yesus mewartakan Kerajaan Allah di mana-mana. Ia tidak gentar ter hadap ancaman Herodes dan kaum Farisi. Ia bertekad menggenapi janji Allah, bahkan memberitahukan perihal kematian dan kebangkitan-Nya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita hanya beriman tapi masih takut menjadi Laskar Kristus? Seharusnya iman kita menjadi kekuatan yang menyelamatkan. Kita diundang untuk menjawab, “Ya, saya siap menjadi Laskar Kristus!”

Renungan Rabu, 29 Oktober 2014 : Pintu Sempit

 
Pekan Biasa XXX, 
 
Ef 6:1-9; Mzm 145:10-14; Luk 13:22-30

Kita sering melihat sikap umat Katolik yang belum menunjukkan jati diri sebagai seorang Kristen atau pengikut Kristus. Jangan-jangan kita sendiri juga seperti itu. Misal, ada yang sombong, tidak peduli kepada sesama, pendendam, suka berprasangka buruk kepada orang lain, lebih senang mementingkan diri sendiri, dan sikap yang lain. Meski sering berbuat buruk, tapi semua orang pasti ingin beroleh keselamatan dan masuk surga.

Yesus mengajukan dua syarat untuk masuk Kerajaan Allah; perjuangan dan tindakan yang segera. Pertanyaannya, mengapa banyak orang tidak bisa masuk Kerajaan Allah? Sebab mereka terlalu lambat mencari dan melakukan hal yang menjadi kehendak Allah.

Kita jangan terlalu lama mencari dan melakukan yang menjadi kehendak Allah. Rasul Paulus menjabarkan dengan jelas perjuangan dan tindakan yang harus segera kita lakukan sebagai anak-anak Allah (Ef 6:1-9). Anak-anak Allah tentu mengenal Allah. “Mengenal” berarti mengakui, menghargai, dan bersimpati. Maka, sudah selayaknya kita mengakui, menghargai, serta berempati kepada sesama, terutama mereka yang kekurangan, miskin, tersingkir, dan difabel.

Selasa 28 Oktober 2014: Memilih Rasul

YESUS memilih para Rasul itu merupakan hal yang paling serius, karena ini menentukan kelanjutan karyaNya di dunia ini. Maka Yesus berdoa semalaman agar dapat memilih rasulNya menurut kehendak Bapa.

Tugas para Rasul, yaitu mengikuti Dia, tinggal bersama Dia, agar dapat menyerap kehidupan Yesus dan nantiNya dapat diutus untuk mewartakan apa yang diajarkan Yesus, dan nantinya jadi saksi kebangkitanNya.

Para Rasul ini jumlahnya 12 orang mewakili dua belas suku Israel. Anehnya bahwa pemilihan para Rasul itu menurut pandangan orang zaman sekarang seolah-olah tanpa ada seleksi. Masakan para Rasul sebagian besar adalah nelayan, banyak yang tak tahu baca dan menulis, dan perangainya pun macam-macam: ada yang kasar, ada yang keras, ada yang sukar percaya, ada yang cepat marah, bahkan ada yang berjiwa pemberontak dsb.

Namun Yesus yakin kalau mereka telah mengikutiNya dan mau tinggal bersama Dia, maka perangai mereka akan berubah.Dan inilah yang mengagumkan. Hanya satu yang tak mau berubah yaitu Yudas Iskariot.

Kalau yang kita rayakan sekarang ini Rasul Simon dan Yudas Tadeus, walaupun tak pernah diceriterakan dalam kisah para Rasul, namun karena mereka ini telah dipilih oleh Yesus, mereka telah mengikuti Yesus dan tinggal bersama Yesus, maka tak ada orang menyangsikan bahwa mereka pun saksi Kristus.

Simon dikenal sebagai saudara sepupu Yesus dan saudara Yakobus muda. Ia dijuluki Zelot, yang rajin, yang meluap semangatnya. Dalam tradisi kuno, Simon ini wafat di Edessa, Irak, sebagai martir. Sedangkan Yudas sering disebut Tadeus yang berarti berani. Ia dimunculkan satu kali dalam Injil Yohanes pada Perjamuan Terakhir yang bertanya kepada Yesus:” Tuhan apakah sebabnya Engkau menyatakan DiriMu kepada kami dan bukan kepada dunia?”

Setelah kenaikan Yesus ke Surga Yudas Tadeus mewartakan Injil ke Mesopotamia dan nantinya ke Persia begabung dengan Simon Zelot. Yudas masih meninggalkan bagi kita Surat Yudas, yang memberikan dorongan dan semangat dalam waktu Umat mengalami krisis.

Bagi kita yang hidup di zama sekarang masih diberi kesempatan untuk menjadi pengikut Yesus dengan meneladan jejak para Rasul: yaitu kita mengikuti Yesus dan tinggal bersama Yesus, supaya kita dapat diutus mewartakan ajaranNya. Kalau kita rajin mengikuti Ekaristi dan mengadakan pendalaman iman, hidup kita akan diubah oleh Yesus sendiri (asal kita rela diubah), sehingga kita nanti mampu melaksanakan tugas perutusan, menjadi saksi Yesus di tengah masyakarat.

Renungan Sabtu, 25 Oktober 2014 : Bertobat

 
Pekan Biasa XXIX
 
Ef. 4:7-16;Mzm 122;Luk. 13:1-9

LUKAS 13:1-5 memberi contoh tentang ‘meneliti keaslian zaman’. Ada dua peristiwa besar. Sejumlah orang Galilea dibunuh secara keji oleh Pilatus (ay.1). Lalu, 18 orang mati ditimpa Menara Siloam (ay.2). Orang-orang menilai dua peristiwa ulah manusia dan alam itu sebagai kutukan dosa, sesuai kata Amsal 24:16, “Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana”.

Yesus mengatakan, ‘penelitiaan keaslian zaman’ seperti itu, tidak benar! “Sangkamu dosa-dosa mereka lebih besar dari dosa semua orang Galiela dan seluruh penduduk Yerusalem? Tidak!, kata-Ku kepadamu. Tetapi jika kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian,” kata Yesus (lih. ay.2-5).

Bertobat menjadi kata kunci dalam mengikuti Yesus. Untuk ini, Tuhan selalu memberi kesempatan seperti dikisahkan dalam perumpamaan ‘pohon ara yang tidak berbuah’(Luk.13:6-9). Para nabi menulis, hasil buruk buah pohon ara adalah lambang dari orang yang tidak setia kepada Allah (lih. Yoel 1:7.12; Hab. 3:17; Yer.8:13), dan gambaran pemimpin yang jelek (lih. Yer.24:8-10). Allah memberi waktu untuk bertobat, karena pengadilan- Nya bertujuan untuk memurnikan dan membersihkan kita dari segala dosa

Renungan Jumat, 24 Oktober 2014: Tinggal dalam Yesus

 
Pekan Biasa XXIX
 
Ef 4:1-6;Mzm 24;Luk. 12:54-59

Seluruh perikop Luk 12:49-59 merupakan satu pengajaran yang saling tersambung. Dalam ay. 49-53, Yesus bicara mengenai konsekuensi negatif bila tidak loyal kepada Allah. Ayat 54-57, para murid diminta untuk berpikir serta memutuskan secara jernih dan merdeka. Lalu, dalam ay. 58-59, Yesus meminta agar bertindak cepat.

Kita semua diberi anugerah kemampuan untuk “meneliti (keaslian) zaman” (Yun. dokimazein ton kairon), namun sering enggan untuk menggunakan (lih. ay.56).

Mengapa? Karena kita lebih suka menggantungkan diri kepada keputusan para ahli, agar merekalah yang nanti memikul tanggung jawab.

Melalui pengajaran, Yesus menunjukkan bahwa Kebenaran Allah itu telah di nyata kan “kepada orang kecil”, bukan kepada “orang bijak dan orang pandai” (lih. Luk.10:21). Dalam suratnya, Yohanes bahkan mengatakan, kita semua telah menerima pengurapan dari Tuhan, maka kita tidak perlu diajar oleh orang lain. “Pengurapan-Nya telah mengajar kamu tentang segala sesuatu..., (yang terpenting) hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia” (lih. 1 Yoh.2:27). Tinggal dalam Yesus Kristus adalah syarat utama agar kita bisa ‘meneliti keaslian zaman’.